<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/2107064986175153332?origin\x3dhttps://inna-k.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
Indonesian National Nurses Association in Kuwait (INNA-K)


Sambutan Ketua INNA-K Periode 2012 - 2017
Selamat datang di website Indonesian National Nurses Association in Kuwait (INNA-K).
INNA-K terbentuk pada tanggal 11 Mei 2006 dengan kepengurusan yang tersebar di beberapa region negara Kuwait. Persatuan Perawat Indonesia di Kuwait sebelumnya telah terhimpun dalam satu wadah organisasi yang bernama APIK (Assosiasi Perawat Indonesia di Kuwait) sejak tahun 1994, Berdasarkan musyawarah bersama yang dihadiri oleh kepengurusan organisasi periode 2006 - 2008 dan perwakilan anggota dari masing-masing region, Maka APIK berganti dengan nama INNA-K.

Website ini dibentuk dengan tujuan sebagai media informasi dan komunikasi melalui berbagi informasi dan berkomunikasi sesama Perawat tentang profile Perawat, Keperawatan dan Kesehatan dengan komunitas Keperawatan dan masyarakat luas, baik dalam lingkup Kuwait maupun International. Semoga kunjungan Anda bermanfaat dan dapat mengkomunikasikan informasi yang didapat pada rekan sejawat maupun masyarakat luas nantinya.

Atas nama Ketua Organisasi INNA/PPNI cabang Kuwait periode 2012 - 2017, Saya mengucapkan terima kasih atas kunjungannya. Website ini jauh dari kesempurnaannya, saran dan komentar Anda untuk kesempurnaannya merupakan kontribusi yang berharga bagi kami. Website ini adalah milik kita bersama, untuk itu diharapkan kepada Anda untuk membantu menyebarluaskan website ini kepada rekan sejawat dan masyarakat luas. Selamat bertugas! Semoga menjadi amal ibadah kita semua.

    Hormat Kami,

    Zulkifli Abdullah Usin, SKM
Wednesday, December 22, 2010
Saat ini sudah 2 (dua) rumah sakit di Indonesia menyandang standar internasional, yaitu Siloam Gleneagles Hospital Karawaci Banten dan Santosa Hospital Bandung. Santosa Hospital menjadi rumah sakit pertama di Jawa Barat yang mendapatkan akreditasi dari Joint Commission International (JCI) yang berpusat di Amerika Serikat, dengan hasil yang menggembirakan yaitu tingkat kepatuhan terhadap standar internasional mencapai lebih dari 97%.

Menteri Kesehatan pada tanggal 18/12/2010, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH menghadiri syukuran keberhasilan Santosa Hospital meraih akreditasi Internasional, sekaligus meresmikan perluasan ruang rawat inap khusus amal (Charity Ward) bagi peserta Jamkesmas dan Jamkesda di Jalan Kebonjati No. 38 Bandung.

Dalam sambutannya Menkes mengatakan, memasuki era globalisasi dan persaingan pasar bebas diperlukan peningkatan mutu dalam segala bidang, diantaranya peningkatan pelayanan yang bermutu di rumah sakit menuju kualitas pelayanan global yang diakui secara internasional.

Menkes menegaskan, dalam upaya mendukung peningkatan mutu rumah sakit, pemerintah telah membuat kebijakan yang dituangkan dalam UU No. 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Peraturan Menteri Kesehatan No. 659 tahun 2009 tentang Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia dan SK Menteri Kesehatan No. 1195 Tahun 2010 tentang Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Bertaraf Internasional.

Pada pasal 40 UU No. 44 tahun 2009 disebutkan, dalam upaya peningkatan mutu pelayanan rumah sakit wajib dilakukan akreditasi secara berkala minimal 3 tahun sekali.

Hal tersebut menunjukkan besarnya perhatian pemerintah terhadap mutu pelayanan rumah sakit sekaligus mengisyaratkan bahwa arah pengembangan mutu pelayanan rumah sakit adalah menuju pelayanan internasional” ujar Menkes.

Menkes mengatakan, dalam upaya menuju pelayanan internasional, pemerintah tidak hanya bergerak pada undang-undang dan peraturan melainkan juga pada sistemnya dengan memperbaiki sistem penyelenggaraan akreditasi. Saat ini tengah dilakukan penyempurnaan akreditasi menuju akreditasi internasional.

Kemenkes sudah membentuk Pokja penyempurnaan akreditasi rumah sakit untuk menyusun Peraturan Menteri Kesehatan tentang Akreditasi RS. Selain itu juga mempersiapkan Komisi Akreditasi Rumah Sakit Indonesia (KARS) untuk terakreditasi Internasional oleh International Society for Quality in Health Care (ISQua) dan mempersiapkan model akreditasi baru. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014 Kemenkes menargetkan minimal 5 rumah sakit akan terakreditasi secara internasional.

Dalam kesempatan tersebut Menkes menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Santosa Hospital yang telah berpartisipasi dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan keberhasilan terakreditasi internasional dari JCI dengan nilai yang sangat baik serta penambahan sarana pelayanan bagi masyarakat yang kurang mampu.

JCI adalah organisasi nirlaba yang berpusat di Amerika Serikat dan merupakan divisi dari Joint Commission Resources (JCR) cabang dari The Joint Commission yang berfokus pada peningkatan mutu berkelanjutan dan keselamatan pasien (continuous quality improvement and patient safety) dari rumah sakit yang diakreditasi oleh JCI.

Acara syukuran juga dihadiri Ketua DPR RI, Marzuki Alie, Gubernur Jabar H. Achmad Heryawan, Dirjen Bina Pelayanan Medik, dr. Supriyantoro, para Muspida Jawa Barat, Walikota Bandung, H. Dada Rosada dan para undangan dari dinas terkait, para direktur rumah sakit se Jawa Barat.

Dengan memperoleh akreditasi JCI, tidak hanya terjadi peningkatan mutu layanan, tetapi juga tercipta perubahan budaya dalam rumah sakit yang menjadikan pasien sebagai pusat rumah sakit. Dengan kata lain pasien tidak hanya menjadi pihak yang menerima layanan kesehatan tetapi ia juga menjadi bagian dari rencana pengobatannya. Perubahan budaya ini merupakan suatu proses yang berkelanjutan, dengan akreditasi ini Santosa Hospital menunjukkan komitmennya terhadap peningkatan keselamatan pasien secara berkelanjutan.

Dengan standar JCI semua pasien yang datang ke Santosa Hospital akan lebih nyaman karena tahu mereka ditangani para profesional yang kompeten, dirawat dengan sistem yang tepat, menjamin adanya layanan prima dengan menggunakan peralatan canggih dan akurat.

Sebagai wujud dari corporate social responsibility, saat ini Santosa Hospital mengalokasikan 100 tempat tidur (TT) untuk kelas 3, dari jumlah itu 52 TT di antaranya merupakan kelas Charity Ward untuk melayani pasien kurang mampu peserta JAMKESMAS dan JAMKESDA dengan standar pelayanan medik dan keperawatan yang tidak berbeda dari kelas-kelas perawatan lain.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center : 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id




Sumber : Depkes.go.id

Labels: ,


Baca Selengkapnya...
 
posted by inna-k at 8:01 AM | 0 comments ShareThis
Thursday, May 13, 2010
MOMENTUM MENJAGA KONTINUITAS PERJUANGAN TERHADAP PERLINDUNGAN MASYARAKAT DAN PERAWAT

Jakarta, Rabu 12 Mei 2010. Tanggal 12 Mei 2010 di seluruh dunia diperingati sebagai Hari Perawat Sedunia (International Nurses Day) dan juga telah ditetapkan sebagai hari Kebangkitan PERAWAT INDONESIA, setelah tepat satu tahun memperjuangkan Undang-Undang Keperawatan yang selama ini terkesan tidak diperhatikan.

Pengurus Pusat Persatuan Perawat Indonesia (PP PPNI) dan Seluruh Pengurus Propinsi, serta Komisariat (tempat kerja) di seluruh Indonesia hari ini 12 Mei 2010 mengadakan serangkaian kegiatan memperingati HARI KEBANGKITAN PERAWAT INDONESIA.

Hari Kebangkitan Perawat Indonesia juga menjadi momentum perawat Indonesia untuk mengingatkan kembali pada semua pihak akan pentingnya UU Keperawatan segera hadir di Indonesia dan membangun citra perawat lebih baik lagi di masyarakat melalui upaya perlindungan bagi masyarakat serta menghimpun semua potensi perawat Indonesia untuk bersama-sama memperjuangkan Profesi Perawat.

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) yang berdiri 17 Maret 1974, merupakan satu-satunya wadah profesi perawat di Indonesia dengan anggota lebih dari 500.000 perawat. PPNI memiliki 16 badan kelengkapan berupa Himpunan dan Ikatan Perawat yang didalamnya merupakan komunitas professional perawat sesuai dengan karakteristik dan keahlian serta keilmuannya. Dalam kiprahnya PPNI tetap konsisten berusaha mewujudkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia yang optimal.

Perawat sudah banyak berperan dalam pembangunan Kesehatan di Indonesia, namun peran perawat tersebut tidak pernah diperhatikan apalagi dihargai secara khusus sebagai bagian dari upaya nasional, perawat sangat dibutuhkan selagi ada masalah dalam pelayanan kesehatan tetapi sering ditinggalkan dalam penetapan kebijakan kesehatan baik local maupun nasional, perlindungan terhadap perawat yang melakukan pelayanan sangatlah lemah yang berarti juga lemahnya perlindungan pada masyarakat yang mendapat pelayanan perawat.

Tak terbantahkan dengan kedekatannya dengan masyarakat perawat telah melayani masyarkat sampai pada kondisi dan daerah yang paling perifer dengan segala keterbatasan namun pelayanan kesehatan tetap harus dilakukan, disisi lain perawat sering dianggap dan dituduh melanggar hukum dan tidak sedikit yang diciduk bahkan ditangkat.

Perlakuan tidak adil terhadap perawat harus dihentikan agar perawat Indonesia dapat berkontribusi lebih banyak lagi untuk melayani masyarakat dengan tetap terjamin perlindungan dan kesejahteraannya.

Di kancah Internasional secara Individu Perawat Indonesia telah berupaya berkompetensi dengan perawat-perawat negara lain namun belum cukup mewakili bangsa kita untuk dapat disetarakan perkembangan profesi perawat dengan negara lain karena system Keperawatan di Indonesia belum kokoh dan system kita tidak diakui oleh negara lain karena tidak adanya UU Keperawatan yang menjamin adanya Konsil Keperawatan Indonesia sebagai Badan Autoregulatory.

Jawaban dari berbagai permasalahan diatas adalah disegerakannya pengesahan UU Keperawatan sebagai regulasi yang kuat yang pada hakekatnya mengatur Sistem Keperawatan di Indonesia agar masyarakat dan perawat dilindungi serta adanya jaminan kesejahteraan dan kondusifitas dalam praktik.

Untuk itu pada hari Kebangkitan Perawat Indonesia kali ini adalah momentum untuk menjaga semangat perjuangan seluruh perawat dan komponen keperawatan Indonesia untuk menyatukan hati dan langkah untuk mendorong DPR dan Pemerintah untuk memperhatikan Profesi Perawat yang telah lama termarginalkan agar mempunyai Undang-Undang Keperawatan di tahun 2010 yang saat ini telah masuk dalam prolegnas di DPR RI dan diprioritaskan.


Kontak Person :

HARIF FADHILLAH Ketua GN Sukseskan UU Keperawatan PP-PPNI HP. 08161435752
SUYATNO Ketua Panitia IND 2010 HP 08129015582




Sumber : PPNI Pusat Jakarta

Labels: , , ,


Baca Selengkapnya...
 
posted by inna-k at 10:28 PM | 0 comments ShareThis
Tuesday, December 1, 2009
Sejauh ini, PMI telah melaksanakan program dukungan penanggulangan HIV & AIDS di Indonesia. Berdasarkan sejarah perkembangannya, program dukungan ini mulai berjalan di PMI sejak 1994 hingga sekarang.

Terkait program pencegahan HIV&AIDS yang dijalankan oleh PMI, Kepala Sub Divisi Program HIV & AIDS Markas Pusat PMI, Exkuwin Suharyanto menjelaskan, “Sejak digulirkannya kerja sama Aliansi Global, program HIV & AIDS PMI terus dikembangkan. Hingga tahun 2009, program HIV & AIDS telah berjalan di 18 daerah di Indonesia dengan tetap konsisten menitikberatkan kalangan remaja sebagai sasaran program.”

Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada hari ini, Selasa (1/12) diperingati PMI dengan mengerahkan 500 relawannya dalam aksi-aksi simpatik dan orasi ilmiah. Hingga berita ini diturunkan, terdata beberapa aksi simpatik PMI dan orasi ilmiah sedang berjalan di berbagai kota.

Beberapa PMI Cabang menggelar aksi simpatik peringatan Hari AIDS Sedunia. Termasuk di dalamnya, PMI Cabang Langkat (Sumatera Utara), PMI Cabang Kota Samarinda (Kalimantan Timur), PMI Cabang Kabupaten Serang (Provinsi Banten), dan PMI Daerah Bali.

Aksi simpatik yang mengusung tema Hari AIDS Sedunia “Akses Universal dan Hak Asasi Manusia” dimulai pada pagi ini (1/12) di Kota Langkat, melibatkan 15 sekolah (SMA) se-kota Langkat dan 100 relawan PMI termasuk dari PMR Madya PMI Cabang Langkat. Mereka berjalan kaki berkeliling kota Langkat sambil menyebarkan sticker dan brosur tentang kampanye cegah HIV & AIDS kepada masyarakat luas. Rute yang ditempuh dimulai dari Gedung Markas PMI Cabang Langkat, menyusuri jalan Imam Bonjol, jalan Proklamasi, pusat Kota Langkat, dan berakhir kembali di Markas PMI Cabang Langkat.


“Peserta aksi simpatik pada pagi ini, terbanyak dari kalangan pelajar. Masing-masing sekolah (SMA), mengerahkan 20 orang siswanya untuk ikut dalam acara ini. Hari ini adalah puncak dari rangkaian acara peringatan Hari AIDS Sedunia yang digelar oleh PMI Cabang Langkat,” ungkap Kepala Markas PMI Cabang Langkat, Heri Enjang Saputra saat acara aksi simpatik digelar di pusat kota Langkat (1/12).

Beralih ke kota Samarinda, aksi simpatik peringatan Hari AIDS Sedunia akan digelar siang ini (1/12) dan melibatkan 90 orang anggota PMR Madya PMI Cabang Kota Samarinda (Kalimantan Timur), serta sekitar 20 relawan PMI Cabang Kota Samarinda selaku panitia acara.

“Aksi simpatik ini melibatkan siswa SMA di Kota Samarinda, para mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman ditambah dengan beberapa anggota LSM. Dalam acara ini, PMI Cabang Kota Samarinda bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Kota Samarinda. PMI juga menyampaikan hasil talkshow yang digelar pagi ini di Hotel Swissbelle Samarinda, dalam orasi ilmiah di pusat Kota Samarinda saat ini," tutur Suntoro, selaku project officer program pencegahan HIV & AIDS PMI Cabang Kota Samarinda di tengah acara talkshow pagi ini (1/12) di Samarinda.

Para pelajar dan mahasiswa ini akan berjalan kaki dan menempuh rute sepanjang jalan Pramuka, jalan Juanda, jalan Pangeran Antasari, dan berakhir di bundaran Lembu Suana kota Samarinda. Mereka juga akan menyebarkan brosur dan sticker kepada masyarakat kota Samarinda.

Konvoi turun ke jalan ini juga dilakukan oleh PMI Daerah Bali mulai pagi hingga siang ini, berpusat di wilayah Renon, Denpasar, Bali.

“Sekitar 70 orang relawan PMI Daerah Bali sekarang sedang menyebarkan sekitar 1.000 pesan yang ditujukan kepada 1.000 pemuda di Bali. Pesan-pesan ini tercantum dalam setiap lembar pembatas buku yang dibagikan gratis. Kegiatan ini digelar di tiga titik lokasi di Renon. Selain itu, Unit Korps Relawan PMI di Denpasar juga sedang melakukan aksi simpatik berupa pembagian bunga mawar dan brosur pencegahan HIV & AIDS kepada masyarakat luas,” ucap Kepala Bidang Pelayanan Sosial dan Kesehatan Masyarakat PMI Daerah Bali, Eko Wardani (1/12).

Diperkirakan kegiatan peringatan Hari AIDS Sedunia di Bali kali ini melibatkan sekitar 300 orang relawan PMI Daerah Bali. Aksi simpatik yang serupa juga digelar di Provinsi Banten. Sejak pagi tadi hingga siang ini, sebanyak 200 peserta berjalan kaki menempuh rute yang dimulai di Alun-alun Kota Serang (Provinsi Banten), jalan Veteran, jalan Ahmad Yani, dan diakhiri dengan orasi ilmiah di bundaran Ciceri Kota Serang, Banten.

“Acara yang digelar oleh PMI Cabang Kabupaten Serang ini, melibatkan sebanyak 136 siswa yang juga anggota PMR Wira dan Madya dari 23 sekolah (SMA dan SMP) se-kota dan kabupaten Serang, peserta dari tiga institusi perguruan tinggi di Serang, ditambah dengan 25 orang pembina PMR Wira dan Madya serta 30 relawan PMI Cabang Kabupaten Serang selaku panitia acara. Sekitar 200 orang ikut aksi simpatik peringatan Hari AIDS Sedunia hari ini,” ungkap Staf Humas PMI Daerah Banten, Neni Hendrawati di Serang (1/12).

Konvoi jalan kaki menyusuri jalan-jalan menuju pusat kota Serang ini, dilakukan sambil menyebarkan sticker dan brosur kampanye cegah HIV & AIDS, dan pembagian pita merah AIDS. Mereka juga mengusung spanduk besar bertajuk “Stop HIV & AIDS, Keep a Promise Serious” . Acara diakhiri dengan gelar pentas seni hasil kreasi para anggota PMR Kota Serang.*



Sumber : Palang Merah Indonesia.

Labels: ,


Baca Selengkapnya...
 
posted by inna-k at 2:29 PM | 0 comments ShareThis
Tuesday, November 3, 2009
Tema Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-45 tahun 2009 adalah “LINGKUNGAN SEHAT RAKYAT SEHAT”. Tema ini sejalan dengan semangat kita untuk meningkatkan kualitas lingkungan yang didukung Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui upaya pemantapan Desa Siaga di seluruh Indonesia sebagaimana tercermin dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 serta Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kesehatan (RPJP-K) tahun 2005-2025.


Makna logo :
  1. Gambaran beberapa individu dalam berbagai corak warna menunjukkan dimanapun manusia Indonesia hidup dalam lingkungan yang sehat penuh keceriaan, kebugaran dan vitalitas.

  2. Bulatan biru melambangkan lingkungan kediaman/tempat kehidupan yang segar, bersih, bebas polusi dan sehat didukung dengan ketersediaan air bersih.

  3. Gambar daun hijau menunjukkan keseimbangan eko-sistem lingkungan yang melambangkan pertumbuhan dan kepedulian akan sumber oksigen kehidupan untuk mencapai status kesehatan yang berkualitas.

Hari Kesehatan Nasional (HKN) selalu diperingati pada tanggal 12 November setiap tahun sejak 1964. Diperingati karena bangsa Indonesia dengan kegigihannya dan semangat kebersamaan serta kerjasama pemerintah dan masyarakat berhasil menuntaskan program pemberantasan malaria di Indonesia.

Peristiwa tersebut kini setiap tahunnya diperingati dan dirayakan di seluruh wilayah Republik Indonesia sebagai bentuk optimisme Bangsa Indonesia dalam Pembangunan Kesehatan, dengan berbagai kegiatan dan bahkan selama beberapa hari.

Pada peringatan HKN ke-45 tahun 2009 ini pemerintah segera memasuki era pembangunan lima tahunan 2010-2014. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kesehatan (RPJP-K) tahun 2005-2025 yang dijabarkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kesehatan (RPJM-K) telah memasuki akhir tahapan RPJM-K yang pertama tahun 2009.

Pada era 2004-2009 yang baru berlalu sejumlah capaian pembangunan kesehatan sudah tercatat dalam hasil Riskesdas tahun 2008 yakni peningkatan Usia Harapan Hidup menjadi 70,6 tahun, menurunnya angka kematian bayi (AKB) menjadi 26 per 1000 kelahiran hidup, menurunnya Angka Kematian Ibu (AKI) melahirkan menjadi 266 per 100.000 kelahiran hidup dan menurunnya prevalensi gizi kurang pada balita menjadi
18,4%.

Memasuki Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kesehatan (RPJM-K) tahun 2010-2014, disamping memperpanjang Umur Harapan Hidup (UHH) dan menurunkan lagi AKB, AKI dan prevalensi gizi kurang adalah mencapai target MDG’s sebagai komitmen internasional serta pemantapan pemberdayaan masyarakat melalui penguatan/ pengembangan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) seperti Desa Siaga dan pemantapan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) dengan prioritas bagi seluruh masyarakat miskin sebagai bentuk pemenuhan akan hak dasar kesehatan yang diamanatkan UUD RI Tahun 1945 (Amandemen Keempat).

Untuk mencapai hal di atas, pada saat ini ada 3 (tiga) persoalan besar bidang kesehatan yaitu aspek lingkungan yang ditandai dengan besarnya dampak perubahan iklim terhadap ekosistem kehidupan sehingga mengundang sejumlah penyakit yang semula sudah dapat diturunkan menjadi berkembang kembali (reemerging deseases) seperti malaria, demam berdarah dengue, diare dan ISPA, disamping dampak bencana alam yang semakin sering terjadi.

Hal kedua aspek perilaku ditandai dengan masih rendahnya kesadaran masyarakat dan peran sertanya dalam pembangunan kesehatan, hal ini ditunjukkandengan lambatnya kemajuan peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di tatanan rumah tangga, tatanan pendidikan, tatanan tempat kerja, tatanan tempat umum dan tatanan institusi kesehatan.

Sedangkan aspek ketiga yaitu upaya kesehatan, utamanya pelayanan kesehatan dasar selain belum optimal memberikan pelayanan yang bermutu juga aksesnya sebagian besar belum terjangkau oleh masyarakat. Aspek lingkungan, perilaku dan ketersediaan pelayanan kesehatan yang bermutu sangat mempengaruhi capaian derajat kesehatan.

Seiring dengan tahun 2009 sebagai tahun lingkungan, dan melihat masalah lingkungan masih merupakan masalah yang cukup besar di bidang kesehatan seperti terbatasnya ketersediaan dan akses air bersih, rendahnya akses sanitasi, masih rendahnya capaian rumah sehat dan lingkungan sehat, tingginya polusi udara akibat kebakaran hutan dan kendaraan, diperberat dengan masih rendahnya proporsi Rumah Tangga dengan PHBS baik, maka perlu Pemerintah bersama Masyarakat menggalakkan semangat untuk meningkatkan kualitas lingkungan diawali pada Peringatan Hari Kesehatan Nasional yang ke 45 Tahun 2009 ini.

Kita percaya dengan semangat yang tinggi serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, kita telah berada pada arah yang tepat menuju Rakyat yang Sehat.



Sumber : PromoKesehatan.Com

Labels:


Baca Selengkapnya...
 
posted by inna-k at 1:33 AM | 1 comments ShareThis
Tuesday, October 27, 2009
Oleh : Ariyanto, SKM

Artikel ini dimuat dalam rangka menyambut "Hari Sumpah Pemuda" ke-81 yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 2009 :

Saya sangat tertarik ketika membaca tulisan Bp. Edy Wuryanto, SKep (Sekretaris PPNI Jateng) dalam kolom pinggir di Media Sehat edisi 20 lalu. Tulisan itu berjudul “Inspirasi Barack Obama”. Mungkin banyak perawat kita bertanya-tanya, apa hubungan Barack Obama dengan profesi perawat? Tentu saja secara profesi tidak ada hubungannya. Tetapi ada point yang dapat ditiru dari Mr. Obama; yaitu muda (untuk ukuran seorang presiden), energik, cerdas, berkarakter, dan tentu saja memiliki jiwa sebagai seorang pemimpin.

Lalu pantaskah perawat memiliki mimpi tinggi untuk menjadi Obama- Obama baru di masa yang akan datang? Kalau dipandang dari keperawatan gaya lama, pasti pertanyaan itu akan dijawab “tidak pantas”. Alasannya klasik, ya tentu dengan memilki mimpi-mimpi dan pikiran-pikiran yang aneh-aneh, perawat akan dicap sebagai perawat yang “murtadz” dari profesinya.

Lalu bagaimanakah dengan keperawatan gaya baru?

Ada hal menarik yang terjadi dalam perkembangan dunia keperawatan akhir- akhir ini. Hal ini dikarenakan telah banyak perubahan antara keperawatan tempo dulu dengan sekarang. Sekarang ini para pakar- pakar keperawatan mulai memandang dunia keperawatan dari berbagai sudut yang lebih luas.

Masih dalam tulisannya, Bp Edy Wuryanto mengatakan, “Next, dunia keperawatan membutuhkan kader yang siap untuk menjadi pemimpin. Pemimpin bukan hanya dilingkup internal perawat, yang menjadikan kita seperti katak dalam tempurung. Tetapi juga pemimpin yang lebih luas. “ Lalu pertanyaannya, bagaimanakah cara mewujudkan harapan itu? Menurut saya, jawabannya adalah dengan menyiapkan generasi muda keperawatan sebagai agen pembawa kemajuan secara berkesinambungan, sehingga perjuangan keperawatan untuk meraih kemajuan tidak akan terputus ditengah jalan.

Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa peran pemuda sangat vital dalam pergerakan bangsa, seperti pada era kebangkitan nasional, sumpah pemuda, proklamasi kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, era ’66, era reformasi, dan seterusnya sampai detik ini. Pemuda selalu punya inisiatif dan ide2 segar untuk mendobrak kebuntuan dan mencetuskan perubahan. Bung Karno pernah berkata : “ Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang seluruh dunia ”. Hal ini menunjukkan, betapa besarnya kekuatan pemuda jika disalurkan secara benar.

Peran Pemuda Keperawatan

Untuk mengakomodasi peran anak- anak muda keperawatan, dapat dimulai dari organisasi kampus. Jadi PPNI dapat menjadikan organisasi kampus keperawatan baik D3 maupun S1 sebagai mitra untuk berkembang. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya dengan mengadakan forum- forum diskusi dan memberikan ruang bagi mahasiswa- mahasiswa keperawatan untuk mengekspresikan pendapat-pendapat maupun pemikiran- pemikirannya.

Selain itu juga dapat berkoordinasi dengan koordinator kemahasiswaan di masing-masing kampus agar memberikan advokasi kepada mahasiswa dalam meningkatkan fungsi organisasinya agar berperan lebih luas, dalam arti tidak hanya menyelenggarakan bentuk kegiatan dalam skup internal kampus saja, tetapi mampu menyentuh peran pengembangan profesi keperawatan, bidang kesehatan, maupun dalam lingkup yang lebih luas.

Dalam aksi simpatik perawat yang digelar pada 12 Mei 2008 lalu, terbukti bahwa mahasiswa keperawatan menyumbangkan massa yang cukup besar, baik di Jakarta maupun di berbagai daerah di tanah air. Namun tentu saja kita berharap tidak hanya jumlahnya saja yang besar, tetapi hendaknya memiliki semangat dan pemikiran-pemikiran besar. Jumlah institusi keperawatan sudah menjamur di mana- mana. Oleh karena itu sangat sayang apabila potensi- potensi mereka tidak dikembangkan.

Kemudian bagi para perawat muda yang telah bekerja di berbagai tempat layanan kesehatan, hendaknya sedini mungkin untuk ikut dilibatkan dalam memikirkan pengembangan profesi. Sehingga dari usia muda, mereka sudah ikut handarbeni terhadap organisasi profesi, so di masa depan akan mempunyai ikatan dan motivasi yang kuat untuk mengembangkan profesi dalam peran yang lebih besar.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa organisasi perawat saat ini belum banyak mempengaruhi kebijakan Pemerintah secara politis (Media sehat edisi 17). Dalam lingkup kesehatan saja, masih belum terlihat “taringnya”, padahal perawat merupakan jumlah terbesar dari seluruh jumlah tenaga kesehatan di Indonesia (mencapai lebih dari 60%).

Tetapi dalam hal kekuatan dan pengaruh, jelas-jelas kita masih dibawah Kedokteran, kebidanan, dan Farmasi. Oleh karena itu sangat penting untuk merapatkan barisan, menumbuhkan kepedulian, dan berlatih mengasah pikiran bagi kemajuan profesi mulai sejak dini.

Saat ini para perawat muda benar- benar berada di wilayah Grass root, mereka dapat merasakan sendiri kondisi riil di lapangan saat ini dan pastilah menumbuhkan berbagai pertanyaan serta rasa ingin tahu yang tinggi tentang berbagai persoalan. Sehingga sangat penting untuk mengakomodir gejolak serta potensi para pemuda ini dalam forum yang positif.

Tentunya kita harus menyadari bahwa peningkatan dan kemajuan profesi keperawatan harus dipandang dalam integral yang kompleks, baik tentang peningkatan profesionalisme, penguatan organisasi profesi, perlindungan hak- hak perawat, advokasi lintas program dan lintas sektoral, maupun keterkaitan yang kuat terhadap kebijakan para decision maker. Keterbukaan adalah kata kunci untuk terus tumbuh dan berkembang. Sikap yang terlalu eksklusif, introvert, dan konservatif justru akan “memenjarakan” keperawatan di rumah sendiri.

Ke depan, kita berharap bahwa para perawat muda tidak hanya sebagai obyek kemajuan tetapi mampu sebagai subyek/ pelaku untuk menggapai kemajuan. Jadi bukanlah hal yang muluk- muluk apabila pada suatu hari nanti, teman- teman yang ber- background keperawatan dapat menggapai mimpi setinggi- tingginya, karna bukan hanya laskar pelangi saja yang berhak bermimpi, namun laskar Florence nightingale pun juga layak bermimpi, punya arti, dan mengembangkan diri.

Majulah terus Perawat Indonesia…!!!



Pengirim : Ariyanto, SKM.
Koordinator Forkom Alumni Muda Poltekkes Prodi Keperawatan Semarang
Mantan Gubernur SEMA 2002/2003

Labels:


Baca Selengkapnya...
 
posted by inna-k at 11:06 PM | 0 comments ShareThis
Saturday, August 1, 2009
Peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2009 mengambil tema “Gaul Ok, Narkoba No Way, Prestasi My Way”, dimana anak-anak khususnya usia sekolah menjadi fokus dalam pemberantasan narkoba. Pemilihan tema dianggap relevan karena penyalahgunaan narkoba tidak saja terjadi pada orang dewasa, namun usia remaja bahkan usia yang lebih muda.

Dalam sambutanya saat membuka seminar peringatan Hari Anak Nasional (29/07/2009) di Jakarta, Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat dr. Budihardja, DTM&H, MPH menyambut baik tema yang diangkat dalam peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2009, karena anak sekolah merupakan kelompok penduduk terbesar yaitu 30% (65 juta) dari 236 juta penduduk Indonesia.

Menurut dr. Budihardja, pentingnya pemberantasan penyalahgunaan narkoba pada usia sekolah terkait dengan dampaknya yang berbahaya, yaitu menimbulkan gangguan fisik, mental emosional (emosi labil, keras kepala, tidak bisa mengontrol diri) dan kehidupan sosial. Selain itu, dapat merusak organ vital seperti otak, jantung, ginjal, paru-paru, hati, kesehatan reproduksi, dan lain-lain.

Pada peringatan Hari Narkoba Sedunia 26 Juni 2008 lalu, dinyatakan jumlah pengguna narkoba di Indonesia mencapai 4 juta orang dan 70% diantaranya adalah anak sekolah.


Dr. Budihardja menambahkan, berdasarkan hasil survey Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan Peredaran Gelap Narkoba Badan Narkotika Nasional tahun 2007, lebih dari 22.000 kasus narkoba terjadi di kalangan siswa SMA, 6.000 kasus siswa SMP, dan 3.000 kasus siswa SD. Sedangkan jumlah kasus narkoba menurut data Badan Narkotika Nasional, meningkat dari 3.617 kasus menjadi 17.355 kasus (5 kali lipat) dalam tahun 2001-2006.

Sedangkan dari data Departemen Kesehatan tahun 2006, pengguna narkoba suntik merupakan penyumbang tertinggi penyebaran HIV. 46% penderita HIV/AIDS ditularkan melalui jarum suntik, tambah dr. Budihardja.


Penanggulangan masalah narkoba, menurut dr. Budihardja merupakan masalah yang harus ditanggulangi bersama baik lintas program, maupun lintas sektor serta melibatkan pihak swasta, LSM, media cetak, dan elektronik.

Merespon permasalahan tersebut Departemen Kesehatan telah membentuk fasilitator khusus dalam pelayanan kesehatan remaja dan pemberdayaan remaja sebagai konselor bagi kelompok sebayanya. Pelayanan kesehatan remaja dilakukan berupa upaya promotif, preventif, dan kuratif serta rehabilitatif di dalam dan di luar gedung puskesmas, baik remaja sekolah maupun luar sekolah.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon/faks: 021-52907416-9 dan 52921669, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.id.



Sumber : DepKes.go.id

Labels: ,


Baca Selengkapnya...
 
posted by inna-k at 1:09 AM | 0 comments ShareThis



WWW.SMART-PIN-KUWAIT.BEC.BNI

Contact Us at email : admin@inna-k.org or Call: +96560739733